Libur lebaran, adalah satu dari sekian banyak hari libur yang aku tunggu-tunggu. Dimana akhirnya aku bisa bertemu dengan keluarga – my lovely mom, my sist, my bro, dan pastinya my nephew – setelah sekian lama tidak berjumpa. Libur lebaran tahun ini tidak terlalu panjang. Hanya 1 minggu totalnya, jika tanpa ada tambahan cuti sendiri. Dalam semingggu itupun, banyak rencana yang sudah tersusun. Mulai dari halal bihalal di keluarga besar, Safari Ramadhan keliling desa, dan yang paling aku tunggu-tunggu adalah reuni SMAN 1 Pati sekelas.
Pulang dari Jakarta melalui Bandung, di hari Minggu tanggal 28 September. Naik Parahyangan dari stasiun Jatinegara jam 530. Lancar banget – meski tidak secepat naik bus yang hanya makan waktu 2 jam paling lama melalui tol Cipularang. Sampai di Bandung jam 830, lanjut naik angkot sekali jalan ke rumah tante di Pahlawan. Dari Bandung ke Klaten, naik Kramat Jati. Berangkat dari poolnya di jalan Ambon sudah agak terlambat, sekitar jam 645 baru berangkat. Padahal seharusnya jam 6 sudah jalan. Di terminal Cicaheum-pun lumayan lama. Sekitar jam 815 baru lanjut. Agak ketar-ketir juga kena macet di Nagrek seperti tahun lalu yang sampai 5 jam macet total di Nagrek. Barulah jam 9 malam, bus berangkat dari agen Kramat Jati di Rancaekek, dan Alhamdulillah Nagrek lancar banget. Sampai di Tasikmalaya saja baru jam 1215. Karena bus jalannya juga nyantai juga lumayan lama muter-muter di Yogya, sampai di Klaten jam 10 pagi.
Masih merasakan sahur, puasa dan juga buka puasa di rumah. Meski hanya sekedarnya, tapi Alhamdulillah itulah nikmat yang luar biasa. Meski pada akhirnya aku tidak bisa menikmati sholat ied, seperti biasa tamu tak diundang hadir sudah. Tapi ada 1 kejadian yang cukup menyeramkan, yang masih terbayang-bayang sampai sekarang. Di malam takbiran, jam 12 malam, di belakang masjid sebelah rumah, ada penampakan berupa pocong. Sempet terlihat dan terekam via kamera hp anak-anak yang sedang takbiran di masjid.
Berani lihat?? http://s270.photobucket.com/albums/jj91/Iwod/?action=view¤t=Pocongmlmtkbran.flv
Karena lebaran hari kedua, ada halal bihalal keluarga besar dari mbah buyut, maka acara Safari Ramadhan yang biasanya di lebaran kedua, dimajukan ke lebaran pertama. Dua hari pertama di bulan Syawal, dipenuhi dengan acara Safari Ramadhan dan halal bihalal. Lumayan capek juga, tapi inilah seninya berlebaran di tengah keluarga tercinta.
Lebaran ketiga, telah direncanakan sebelumnya, soal reuni sos 1. Mau tidak mau memang harus ke Pati – dimana dulu aku menghabiskan masa-masa sekolah. Awalnya sih hanya mau naik bus saja sendirian. Tapi ternyata my bro mau ke Pati juga – bertemu dengan teman-teman lamanya dulu – so kita naik motor menuju Pati. Berangkat dari rumah jam 6 tepat. Lumayan pegel juga ternyata – karena ternyata jauh juga jarak yang kita tempuh. Seru juga, meski tidak sampai 50% yang bisa hadir hari ini. Baik yang karena memang benar-benar tidak bisa atau karena memang tidak diketahui jejaknya.
Karena terlalu malam kalau mau pulang ke klaten lagi, maka aku nginep di rumah fera, my bro sendiri nginep dirumah temannya. Baru keesokan paginya jam 615 pulang ke klaten. Lama perjalanannya lebih lama jika dibandingkan dengan waktu berangkat. Karena kita banyak berhenti. Mulai dari Purwodadi untuk ganti oli, kemudian ngopi dulu sebentar di rest area – aku lupa nama daerahnya yang jelas setelah gundih kalau dari Purwodadi – belum termasuk beli bensin 2 kali. Sampai di klaten jam 1130.
Perjalanan pulang pergi ke Pati, seperti mengenang beberapa tahun silam. Ketika keluarga semua masih tinggal di Pati. Lalu harus berlebaran ke Klaten tiap tahunnya. Jalanan yang kita lalui, rumah makan dimana kita dulu biasa mampir – di RM. Lestari Sumber Lawang, kota Pati yang setelah bertahun-tahun aku tidak mampir kesana – ternyata belum banyak berubah juga. Satu-satunya perubahan yang paling kelihatan adalah, adanya toko Luwes. Tokonya paling besar, paling ramai, yang lain relatif tidak berubah. Pertokoan di Jalan Sudirman-pun tidak banyak mengalami perubahan. Bioskop yang dulu pernah ada – Gelora dan Indra – telah berubah fungsinya sekarang. Satu hal lagi, di jam 9 malam ternyata masih saja kota Pati seperti tidak ada penghuninya, sepi sekali. Padahal Pati adalah kota karesidenan, dimana dibawahnya ada Kudus, Jepara, Blora, Rembang – kalau nggak salah, sudah agak lupa juga soalnya – tapi jauh lebih hidup kota Kudus sebagai sentra industri rokok, jauh lebih ramai Juwana yang hanya salah satu kota kecamatan di Pati yang merupakan sentra industri kuningan.
Sebenarnya sih ada dua hal dari kota Pati yang paling membuat aku kangen dan selalu ingin kembali kesana. Yaitu nasi gandul dan mengenang kembali sekolah-sekolah aku dulu. TK Socius, SD Puri 3, SMPN 3 dan SMAN 1. Namun semuanya tidak bisa aku kunjungi kemarin waktu ke Pati karena keterbatasan waktu juga. Nasi Gandul, karena sekarang aku tidak lagi makan daging, rasanya tidak ada kesempatan buat aku untuk menikmatinya lagi. Daripada nantinya aku sendiri yang repot?
Selama hampir 20 tahun tinggal di Pati, ternyata banyak kenangan yang tercipta di sana. Meski hanya sebentar dan tidak banyak hal yang bisa aku lakukan di sana, sudah cukup menghapuskan sedikit rasa kangen pada kota yang telah membesarkan aku ini. Kota yang begitu adem ayem, nyaris tanpa geliat kota pada umumnya. Kota yang seperti punya jam malam – jam 9. Tapi begitu luar biasa buat aku.


tulisannya bagus-bagus, aku udah dua kali baca.
dulu waktu kamu sms aku langsung liat. dan barusan ngeliat lg, kupikir kalo ada postingan baru, aku tertarik baca.
tapi fotoku kok gak ada ya..he..he…
Kemarin ga sempet foto bareng2 ya. Keasyikan ngobrol, jadi lupa. He he…
Tulisan baru, ditunggu aja