Telah direncanakan sebelum tayang perdana di bioskop 25 September, bahwa kita akan nonton bareng film ‘Laskar Pelangi’. Salah satu film yang aku tunggu-tunggu di akhir tahun ini. Semua teman-teman yang seperti biasa – Deri, Nuria, Octa, Sri, Ito dan juga Risma – memutuskan untuk pergi menonton LP pada hari Sabtu di Citos. Tapi ternyata Deri tidak bisa ikut serta, karena harus menengok saudaranya yang sedang sakit. So, kita hanya ber enam ke Citos pada tanggal 27 September 2008.
Sampai di Citos dari jam 10 – dengan harapan bisa mendapatkan antrian paling depan. Tapi ternyata tidak bisa. Karena bahkan studio 21-nya saja baru dibersihkan dan sama sekali belum dibuka pintunya. Semakin siang, semakin banyak orang yang memadati loby depan 21 Citos. Menurut informasi dari cleaning service yang sedang membersihkan jendela, loket baru dibuka pukul 1130. It means 1,5 jam aku menunggu di depan loby 21 Citos. Yang membuat lebih kesel lagi, aku yang menunggu tepat didepan rolling door yang menuju ke loketnya, ternyata tidak bisa masuk untuk pertama kalinya. Karena rolling door yang dibuka lebih dulu adalah yang disamping – dimana banyak orang juga yang telah menunggu di depannya. Tapi Alhamdulillah, Ito yang sudah datang lebih dulu dari yang lainnya, langsung menerobos masuk, dan antriannyapun tidak terlalu di belakang.
Perjuangan sebelum menyaksikan LP sebanding dengan filmnya sendiri. Extra ordinary – kalau menurut aku. Meski – seperti biasa – ada beberapa cerita di buku yang lumayan seru tapi pada akhirnya tidak divisualkan – demikian pula sebaliknya. Tapi ada juga ada yang cenderung dipaksakan untuk bisa ada di film. Seperti ketika Ikal dkk menuju ke pulau lanun untuk menemui Tuk Bayan Tula – seorang dukun – sekedar meminta jimat atau mantra agar bisa lulus ujian. Satu hal yang sebenarnya sih nggak ada di filmpun tidak ada pengaruhnya apa-apa ke cerita keseluruhan.
Untuk pertama kalinya seorang Iwod harus menangis bombay hanya karena melihat sebuah film. Untuk pertama kalinya, karena memang tidak pernah sampai seperti itu. Bahkan ketika melihat AAC yang kata orang bisa buat kita menangis darah – istilah katanya – Iwod bahkan tidak sampai meneteskan air mata. Tapi hanya karena seorang Lintang – seorang genius didikan alam kata Ikal – yang tidak bisa meneruskan sekolahnya di detik-detik terakhir menjelang kelulusan sekolah. Karena harus mengambil alih peran ayahnya – yang meninggal pada saat melaut – untuk menjadi kepala keluarga dan tulang punggung bagi ketiga adik perempuannya. Entah kenapa tiba-tiba saja air mata ini mengalir deras dengan sendirinya – bahkan sampai sesenggukan. Kalau boleh jujur sih agak aku tahan yang sesenggukan – agak malu soalnya – tapi ternyata Nuria yang ada tepat di sebelah aku mendengarnya juga.
Jadi nggak sabar pengen nonton buku keduanya ‘Sang Pemimpi’ – yang banyak mengispirasi aku dalam banyak hal. Termasuk memperjuangkan mimpi-mimpi aku. Menurut Riri Reza – sebagai sutradara – tidak lama lagi akan segera difilmkan Sang Pemimpi. Just wondering – seperti apa ya Arai itu?