Lunch at Solaria – Margo City
Menunggu memang amat sangat menjemukan. Tapi di hari Minggu kemarin (31 Agustus 2008), adalah hari menunggu sedunia buat aku. Selain menunggu bus yang ke Depok – yang makan waktu 30 menit sendiri plus berdiri pula – juga penantian menunggu makan siang di Solaria Margo City. Penantian ini adalah puncaknya.
Kita mulai pesan makanan dari jam 2 siang. Kita berlima memang beda-beda pesanannya, sedangkan aku sendiri pesan kwetiaw siram seafood – salah satu makanan favorit aku juga. Pesanan mulai diantar setelah 25 menit pertama, berupa nasi goreng telur dan satu lagi aku lupa namanya – punya Ito. Sekitar 10 menit kemudian baru ifumi pesanan Deri – padahal kita memasannya paling terakhir karena Deri datang belakangan. Sedang aku dan Octa – yang memesan nasi goreng sosis – belum juga mendapatkan apa yang kita pesan.
Boleh dibilang sebenarnya kita memilih Solaria karena di Pizza Hut – yang terletak di sebelahnya ngantrinya lumayan panjang. Karena masih bisa dapat tempat duduk, akhirnya kita memilih Solaria. Dengan jumlah meja yang banyak, ternyata tidak diimbangi dengan jumlah pelayannya – mungkin juga kokinya. Jadi, hasilnya banyak pesanan yang keteter – termasuk punya aku.
45 menit setelah kita memesan makanan, tidak juga ada tanda-tanda pesanan kita akan segera diantar. Padahal meja sebelah kita – yang jelas-jelas sampainya duluan kita – sudah lebih dulu diantar. Aneh memang. Sampai akhirnya aku maju ke kasir untuk menanyakannya. Tapi jawabannya tidak sesuai dengan kenyataanya. Dia bilang ‘ Sudah tinggal diantar bu…’. Akhirnya aku kembali ke meja. Tapi aku tunggu 5 menit, 10 menit tidak juga diantar. Barulah sekitar 15 menit kemudian – yang artinya 1 jam dari kita memesan tadi – makanan pesanan Octa diantar. Jawaban dari pelayannyapun tidak enak didengar. Dia hanya bilang maaf saja, karena resto sedang ramai. Jadi, kesimpulannya mereka lebih suka restoran sepi? Jadi lebih cepat memenuhi pesanan pelanggan. Aneh.
5 menit kemudian barulah pesanan aku – kwetiaw siram seafood – baru diantarkan. Dengan jawaban yang masih sama seperti tadi. Apakah memang sudah ditrainning oleh supervisor mereka untuk menjawab seperti itu? Seolah-olah memang hal itu biasa terjadi. Benar-benar tidak sesuai dengan nama besar Solaria – yang sudah mempunyai cabang di banyak tempat.
Bahkan ketika beberapa teman aku yang lain aku ceritain masalah ini, mereka bilang, ya memang seperti itu Solaria. Lambreta alias lama.