Pagi sayang …
Entah kenapa dari kemarin aku masih saja mengingat kamu. Terkadang aku bisa mengalihkan perhatian pada orang lain. Mencoba dan berusaha mencari pengganti dirimu. Tapi terkadadang pula, bayanganmu hadir lagi dan seperti membuka album lama.
Aku coba menuliskan surat yang aku tujukan untukmu yang berisi tentang perasaanku padamu – meski tak pernah kukirimkan untukmu, dengan harapan aku bisa melepaskanmu. Tetap saja berulang kali hadir lagi senyuman manismu. Aku coba menuliskan beberapa bait puisi tentang hati ini, tetap saja kali ini aku masih bisa mengingat semua kenangan bersamamu.
Hampir tiga tahun yang lalu aku mengenalmu. Tapi sampai sekarangpun aku masih bisa menceritakan detail ceritanya seperti apa. Hampir setahun yang lalu pertemuan terakhir kita, tapi aku masih bisa mengingat baju apa yang kamu pakai hari itu. Kenapa senyuman itu belum juga hilang dari hati ini? Kenapa belum juga aku bisa menerima ketidakhadiranmu di sisiku?
Aku tak pernah bisa mengerti apa yang ada pada dirimu, hingga sulit bagiku untuk melepaskanmu. Sayang, izinkan aku untuk bisa melepaskanmu dari hati ini – kalau memang itu yang terbaik bagi kita. Sayang, aku ingin hidup tanpa ada namamu lagi, tanpa ada senyumanmu lagi, tanpa ada kenangan bersamamu. Biarkanlah aku bersama dengan kehidupanku saat ini, tanpa ada dirimu lagi…
Seorang laki-laki telah pergi …
Meninggalkan sebuah cerita yang telah aku sudahi
Menyisakan satu lembaran kosong untuk aku tulisi
Tentang air mata dan keringat yang sudah aku keluarkan
Entah berapa banyak buku yang sudah aku simpan
Menumpuk di tepi hati ini
Letih menanti kejenuhan yang telah tercipta
Meski tak pernah aku berani membukanya lagi
Seorang laki-laki telah pergi …
Meninggalkanku di sini sendiri bersama sepi
Sepi …
Letih …
Karena aku harus membuat cerita yang baru lagi
Namun kuharap ini untuk yang terakhir kali
Iwod’s : December 13th, 2007