Orang bilang usia menjelang kepala tiga bagi seorang wanita adalah usia panik. Usia panik ketika belum juga hadir sang pangeran di kehidupannya. Meski sebenarnya sih sudah hadir – mengingat bahwa tiap manusia di dunia ini telah dipasang-pasangkan – hanya saja belum bertemu. Usia dimana saat ini kita mulai diperkenalkan dengan dunia perjodohan dan perkenalan.
Suatu hari seorang teman mencoba memperkenalkan satu orang teman kantornya. Dia bilang, ‘Kamu tidak akan menyesal dengan temanku ini. Orang nya super baik, pekerjaannya sudah mapan, sudah punya rumah plus mobil pula. Jadi kamu nggak usah mikirin bagaimana nanti mencari rumah baru setelah menikah.’ Begitulah dia mempromosikan temannya. Akhirnya sampailah pada hari yang telah ditentukan, perkenalan kita, setelah beberapa kali gagal karena satu dan lain hal. Memang sih kita nggak boleh ‘judge the book by its cover’. Tapi pandangan pertama itulah yang akan mempengaruhi cerita selanjutnya. Kalau saat pertama saja kita sudah tidak ‘klik’ bagaimana dengan selanjutnya?
Beberapa kali temanku menanyakan ‘bagaimana?’. Tapi aku juga tidak bisa menjawabnya. Karena kita sebagai wanita hanya menang nolak/terima. Sedangkan laki-laki menang milih. Jadi, kalau dari pihak laki-laki tidak pernah memilih, bagaimana cara kita menerima atau menolak?
Rasanya kejadian ini bukan untuk yang pertama kalinya dalam kamus aku. Beberapa kali seorang teman mencoba untuk memperkenalkan teman laki-lakinya kepadaku. Tapi sering kali hanya berhenti di tengah jalan. Terakhir, belum sempat aku bertemu langsung dengan laki-laki yang akan diperkenalkan kakak sepupuku padaku, dari pertengahan tahun ini dia mencoba untuk memperkenalkannya dengan aku.
Terkadang kalau sedang sadar, aku bisa rileks menghadapi semua ini. Ok-lah, aku bisa nyantai dan biasa saja dengan cerita kesendirianku. Tapi ketika melihat temanku yang lain sudah bisa bercerita tentang hubungannya dengan cowoknya, rencanya pernikahan mereka atau keberhasilan mereka dalam menjalin cinta, rasanya aku ingin berteriak kepada dunia. Apa yang salah dari diri ini? Setelah aku kembali merenung dengan kesendirianku ini, kemudian aku kembali tersadar, bahwa jalan inilah yang harus aku lalui.
Dan aku tidak boleh menyerah begitu saja. Karena aku tahu setiap manusia sudah dipasang-pasangkan bahkan sejak kita belum terlahir ke dunia, jadi nggak ada yang perlu ditakutkan. Jadi sebenarnya usia panik itu tidaklah ada. Yang ada adalah usia dimana kita harus terus berusaha dan berdoa serta memperbaiki diri. Karena di sanalah letak kekuatan kita sebenarnya.
Bukan tidak mungkin laki-lakipun juga mengalami hal yang sama dengan kaum wanita. Meski sebenarnya laki-laki menang milih, bukankah kaum wanita menang nolak? Jadi, bisa saja kan laki-laki juga berada dalam usia panik?